Kutipan

Luka

Seperti biasa aku duduk di pelataran rumah. Menghirup udara pagi yang menyegarkan. Kicauan burung masih dapat ku dengarkan pagi ini. Walau nyanyian mereka sudah mulai di ganggu suara bising mesin mobil yang dinyalakan oleh seseorang yang tidak mengerti betapa indahnya keheningan. Tapi tak apa, aku masih bisa menikmati semua ini.

Secangkir teh ku letakan di meja. Uap nya masih terlihat samar- samar, walau mulai nampak mulai menghilang karena diselimuti dingin nya pagi ini. Beberapa orang sudah mulai terlihat berlalu lalang sibuk dengan urusan mereka. Namun aku masih tetap bertahan disini. Duduk sendiri.

Aku masih mencoba menerka beberapa luka yang timbul dan tenggelam beberapa hari ini. Ada beberapa hal yang seperti nya memancing dirinya untuk timbul ke permukaan. Namun aku tetap berusaha tak menghiraukan nya. Aku hanya tak paham mengapa luka yang ditanamkan mereka, orang- orang yang berusaha aku lupakan dari dunia yang fana ini, masih tetap ada dan tak bisa menghilang dari dalam diri ini.

Luka- luka itu tetap ada seperti hal nya kepingan kaca yang retak. Walau sudah susah payah aku satukan kembali. Tetap saja kaca itu pada dasarnya sudah rusak. Sudah tak sempurna lagi. Bahkan jika aku melihat nya dari berbagai macam sudut pandang dan jarak, aku masih tetap bisa melihat setiap detail retakan kaca itu.

Entah apakah orang- orang itu sadar bahwa mereka telah merusak bagian dari diri ini. Bahwa diri ini takan pernah bisa sama lagi walau sebenarnya aku ingin tetap menjadi diri ku yang dulu. Mereka menghancurkan bagian diri ku sambil tersenyum. Merangkai setiap kepingan diri ku yang hancur menjadi bagian diri mereka. Menghias diri mereka dengan setiap kepingan diri ku.

Menjadikan diri mereka lebih ‘spesial’.

Aku heran mengapa ada spesies manusia seperti mereka. Mungkin mereka hanya sekedar penggembira dalam hidup ku. Sekedar menghancurkan diri ku untuk sesaat. Kemudian pergi tampa merasakan apa yang kursa. Ada kala nya aku tak ingin hidup bersama dengan orang yang hidup.

Aku merasa manusia yang masih hidup terkadang tak memiliki jiwa. Hanya sekedar kantung kosong yang tak berguna.

Bisa saja semua ini adalah balasan karena tampa sepengetahuan ku, aku pernah merusak hati orang lain juga. Kalau memang begitu, tak apa. Aku akan menerima semua ini. Semoga di masa yang akan datang aku tak akan menyakiti manusia lain nya. Dan aku sangat berharap tak ada manusia lain nya yang di hancurkan bagian dirinya oleh orang yang menghancurkan diri ku.

Luka memang tak akan pernah bisa hilang. Ia akan tetap akan ada selama aku hidup. Namun setiap bekas luka yang ada dalam ini akan selalu mengingatkan aku akan satu hal. Semua manusia tak akan mungkin tidak saling menyakiti. Namun, semua manusia bisa saling memaafkan.

-FNFA-

Iklan

7 thoughts on “Luka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s