A Piece Story of Mudik Trip

IMG20170629124459-01.jpeg

It feels so weird that I’m not writting anything for a long time. This happen because the next day after Lebaran. My family went to Surabaya for mudik! So… in that time I can’t write anything because I didn’t bring my laptop. And another reason is it’s really hard to get a good signal for internet. So I just read a couple of novel in that trip and enjoy my holiday to Surabaya hahaha ๐Ÿ˜€

I don’t have any special story in my trip to Surabaya, alasannya adalah karena perjalanan ke Surabaya sudah saya lakukan setiap tahun sehingga saya juga sudah agak bosan untuk mereview beberapa tempat yang saya kunjungi karena rasanya saya sudah pernah menuliskannya di waktu-waktu yang lalu. I don’t take many photo at that trip because this reason too hahaha.

Satu kebiasaan saya yang cukup ga penting namun tetap saya lakukan setiap kali saya singgah di beberapa kota besar sepanjang perjalanan menuju Surabaya adalahย Books Store trip, atau lebih tepatnya adalah Gramedia trip! Oke, saya sama sekali tidak di endorse oleh Gramedia namun tempat ini adalah destinasi wajib untuk saya.

Well, I know some of you will said this thing.

“Apa bedanya sih, yang namanya Gramedia mah di semua kota pasti sama aja”

 

If you think like that, I feel you are not book/ stationary addict like me :p

Seperti yang teman-teman ketahui, semenjak saya masih TK bahkan sebelum masuk sekolah sekalipun. Orang tua saya sudah membiasakan saya untuk bertapa di Gramedia. Kalau menurut saya sih Gramedia bisa dibilang satu-satunya toko buku besar yang menyediakan tempat yang lumayan nyaman untuk cuci mata. Kalau lagi ga punya uang, paling saya cuma numpang baca * Uhuk*, terus kabur ke toko-toko buku di Palasari Bandung buat beli novel nya karena biasanya harganya lebih murah muahahahahaha.

Kadang kalau lagi bad mood, tempat pelarian saya pasti ke Gramedia.

Maka dari itu, saya hafal banget lokasi setiap barang di gramedia Bandung terutama Gramedia di jalan Meredeka dari ujung- ke ujung. Mulai dari bagian buku politik, bagian novel fantasi, novel romance, buku bisnis, buku pelajaran, bahkan detail rak map atau alat tulis saya hafal.

Jadi kesimpulannya, karena hal itu juga saya menyadari bahwa distribusi novel di Gramedia di setiap daerah tuh beda-beda. Sedihnya adalah, gramedia di Bandung termasuk engga lengkap soal novel maupun alat tulis di bandingkan dengan gramedia di kota lain seperti Semarang maupun Surabaya. Novel aja lengkapan di Gramedia Simpang lima semarang dari pada di gramedia Merdeka Bandung (yang katanya gramedia terbesar di bandung).

I’m sure that you will tell me this,

” Kenapa ga beli online aja kan lebih gampang”

Saya engga bisa mendeskripsikan hal yang satu ini dengan jelas. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa menemukan buku yang saya inginkan secara langsung di rak buku dibandingakan dengan online hahaha. Yaa kecuali kalau emang ga ada stocknya barulah saya beli online.

Okay that The first story for this trip


 

And now, Let me tell you the second story.

Untuk cerita perjalanan yang kedua ini saya tidak bisa menceritakan nya secara menyeluruh. Karena malas untuk mengingatnya, dan ya… I just want to forget this part. Tapi saya merasa hal ini perlu untuk diceritakan so here we come.

My car got hit by fire engine when I wanted to go to Semarang from Surabaya.

Posisinya ketika kejadian itu terjadi saya lah yang mengendarai mobil. Di dalam mobil ada kakak dan orang tua saya. Jadi kondisi jalan dari Surabaya menuju malang itu hanya ada dua jalan yang berlawanan arah. Dan satu arah hanya cukup untuk satu mobil. Jalanan saat itu bisa dibilang engga terlalu padat, masih lumayan sepi. Saya mengendari mobil engga tidak ngebut karena memang saya tidak ingin terburu-buru untuk sampai semarang. Supaya aman juga perjalannya.

Kondisi jalan yang berlawanan arah sedang lengang tidak ada mobil maupun motor yang ke arah Surabaya. Tiba-tiba di belakang saya ada mobil pemadam kebakaran. Dia tidak meyalakan sirine yang biasanya dinyalakan kalau memang sedanga da kondisi darurat. Dia mengklakson berkali-kali dari belakang, mungkin dia ingin menyalip kan pikir saya. Oke, saya memutuskan untuk meminggirkan mobil saya ke kiri untuk memberi ruang untuk dia menyalip. Dia terus mengklakson tampa henti dan itu cukup mengganggu.

Dia pun mulai menyusul dari kanan saya, kondisi jalan dari arah berlawanan memang sedang lengang jadi bisa untuk menyalip. Selama menyalip dia tetap mengklakson, dan tepat disaat mobil pemadam kebakaran berada di sebelah kanan saya. Dia mulai memepet mobil saya ke arah kiri dengan sangat cepat.

And then, that big thing hit my car.

Tepat di sebelah kanan saya. ย di posisi kemudi.

And I still remember how huge that stupid thing appear on the window.

Refleks, ketika dia menabrakan mobil nya yang berukuran jumbo itu ke mobil saya. Saya langsung memutar kemudi kearah kiri untuk mengindari mobil itu yang makin lama malah makin memepet saya. Dan perlahan, saya injak rem untuk menurunkan kecepatan mobil.

Dan kalian tahu apa yang paling membuat saya merasa kesal?

When I stop my car.

He just run away.

Boro-boro deh berhenti buat nge cek apa ada korban atau apa gitu. Dia mah jalan aja santai kabur. Mana peduli dia kalau ada yang terluka.

Singkat cerita, alhamdulillah engga ada korban terluka dalam kejadian itu. Keluarga saya baik-baik saja sampai saat ini. Hanya saja spion kanan mobil saya pecah kacanya, dan ada beberapa penyok dan baret di bagian body depan mobil. Yang paling menggangu adalah kaca spion yang pecah ini. Untungnya papa saya masih sempat memungut serpihan kaca nya jadi masih bisa di tempel dengan selotip.

Spion tuh spot paling krusial di mobil, bahaya banget kalau ga bisa liat mobil/ motor yang ada di belakang.

Satu hal yang saya yakini, dia menabrakan mobilnya ke saya dengan sengaja. Posisi dia saat menyalip jelas clear dan aman untuk menyalip ย karena kondisi jalan sedang kosong banget. Dan saat dia menabrakan mobilnya, dia TETAP MENGKLAKSON SAYA DONG. Hei, kalau emang ga sengaja nabrak. Dia mana sempet untuk mengklakson sambil dengan enaknya nabrakin mobilnya tampa merasa berdosa sedikitpun.

Kalau ada yang nanya kenapa saya engga kejar aja atau inget-inget plat nomornya?

Saya sama sekali ga sempat buat memikirkan hal-hal itu, yang ada di otak saya ketika hal itu terjadi adalah gimana caranya saya harus mengamankan keluarga saya terlebih dahulu. Makanya setelah ditabrak, saya memilih untuk berhenti memastikan semua orang selamat. Uang masih bisa dicari, kalau nyawakan ga bisa.

Dan untuk supir pemadam kebakaran yang nabrak mobil saya. If you read this post, I just want to say this,

Hey dude, that’s good if you still can enjoy your life like nothing happen. But you must to know that karma is exist.

Mungkin, kejadian ini menjadi pengingat untuk saya untuk lebih dekat kepada Allah. Dan ini bisa jadi salah satu proses pendewasaan untuk saya untuk memperbaiki beberapa hal buruk yang masih ada didalam diri saya.

Hah….

Disamping semua kejadian itu, hal lain yang membuat saya menikmati perjalan mudik ke Surabaya ini adalah makanan! Yap, Berikut ini beberapa makanan yang sempat saya cicipi di Surabaya. Saya juga sempat mampir ke kota malang untuk memenuhi keinginan saya untuk makan beberapa hal disana. Let’s the photo tell you the story now! ๐Ÿ˜€

Well, that’s a piece story of my mudik trip! I hope you have a nice day friends!

-FNFA-

Iklan

4 thoughts on “A Piece Story of Mudik Trip

  1. zilko berkata:

    Ah, apakah Gramedia engga me-rolling posisi rak-raknya setelah sekain waktu? Hmmm. Jadi inget, dulu kalau di Bandung ke Gramedia ya ke yang di Jalan Merdeka itu atau ke Gramedia di PVJ, hahaha ๐Ÿ˜† .

    Btw, itu kurang ajar bener ya pemadam kebakarannya? Kok begitu??

    Disukai oleh 1 orang

    • fahrizinfa berkata:

      Kalau posisi rak buku cenderung sama terus sih sejauh yang aku perhatikan, cuma pernah beberapa waktu yang lalu di gramedia merdeka mereka merubah drastis layout bagian buku ada beberapa jenis buku yang di ubah tempat raknya hahaha.

      Iyaa kak Zilko dia kabur gitu aja ๐Ÿ˜ฆ padahal kerusakan di mobilnya lumayan banget. Apalagi yang paling bahaya bagian spion, jadi susah banget nyetirnya pas pulang karena susah melihat mobil di belakang ๐Ÿ˜ฆ

      Suka

  2. Ninda Rahadi berkata:

    yep hukum tabur tuai does exist
    semacam kaget gitu sih baca ini karena fizi mudiknya ke jawa timur
    bebek sinjay enak but not that tasty karena sambelnya pelit dan pelayanannya bikin pengen nimpuk pegawainya
    di surabaya banyak bebek enak
    menurutku masih enakan bebek hitam pak sayeki daripada ini
    karena enak, pelayanannya nyenengin meskipun di warung tenda dan sambelnya serah lu mau berapa banyak ๐Ÿ™‚

    Disukai oleh 1 orang

    • fahrizinfa berkata:

      Akuu ada keluarga di Surabaya kak Ninda XD Iyaa sih waktu aku coba yang di Madura, pelayanan nya parah banget ga jelas antriannya. Tapi rasa sambelnya lumayan ehehehe walau lebih enak rasa sambel Bu rudy kak Nindaa XD

      Bebek Hitam pa sayeki ada dimana kak Ninda? nanti kalau ke surabaya lagi aku coba deh bebek pak sayeki ๐Ÿ˜€

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s